
Aku masih terjebak disini
Dalam kemacetan kota ini
“Jam 8 malam” ucapku lirih.
“Apa sih yg ku cari hingga selarut ini?” tanyaku dalam hati
Kulirikkan mataku ke kanan,,,
Ehm,, enak ya klo naik Kijang
nggak kehujanan
Ehm,, enak ya klo naik Kuda
nggak kedinginan
Bebek, Tiger,
yang bergigi atau pun yang tak bergigi
Saling berebut jalan
egois muncul sebelum toleransi itu mampir
Ehm,,, Aku seolah seperti orang kurang beruntung saat itu,,,
Harus bekerja hingga larut malam,
Dan terpaksa setia berada diantrean kemacetan
Tepatnya berada dibelakang kijang mewah itu
Tanpa ku tau persis apa sebenarnya yang ku cari hari ini
Ku alihkan pandangan ku ke kiri
Kali ini,
Napas ku seolah berhenti sejenak
dadaku bergetar
hatiku menangis
dua balita sedang berlarian di atas separator jalan
sedang apa mereka disitu?
sudahkah sepotong kue masuk dlm perutnya?
sudahkah setetes air membasahi kerongkongannya?
bukannya ini waktunya mereka tidur?
dimana orang tuanya?
dimana rumah mereka?
tak ada kah kain tebal yang melindunginya dari angin malam?
Detik itu pula Aku merasa menjadi orang yang sangat beruntung
Aku masih punya pakaian,
Perutku masih kenyang,
Kerongkonganku masih basah,
Ada alamat yang bisa ku tuju untuk pulang
Dan pastinya ada keluarga yang mencintaiku disana
Dengan Nikmat yang selama ini telah Aku dapatkan, alangkah sombongnya Aku, Jika Aku tidak bersyukur pada-Nya.
Barang siapa yang bersyukur
maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri
dan barang siapa yang ingkar
maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.
-Untuk Marun-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar